Sindrom Kekentalan Darah

sindrom kekentalan darah

VALENCIA MIEKE RANDA : Tuhan Punya Rencana Baik

Meski menyandang sindroma kekentalan darah, saya diizinkan melahirkan 3 orang anak dengan keistimewaan masing-masing. Saya juga mendapat “bonus” tumor dan mioma. Mungkin begitulah cara Tuhan untuk menguatkan saya agar bisa berbuat lebih banyak untuk orang lain

Sejak masa kecil, saya sering sakit. Namun demikian, saya termasuk murid berprestasi dan aktif dalam berbagai kegiatan, antara lain marching band. Saat ikut latihan drumband ini, gangguan kesehatan saya semakin terlihat. Lelah sedikit sudah mimisan, pusing, hingga pingsan. Ternyata saya menderita hiperagregasi trombosit atau sindroma darah kental setelah dilakukan pemeriksaan intensif di rumah sakit.

Darah yang kental membuat aliran darah kurang lancar dan sulit mencapai pembuluh darah yang jauh dari jantung, termasuk otak. Itu sebabnya, saya sering pusing. Risiko yang perlu diwaspadai adalah tekanan darah menjadi cenderung tinggi. Untuk pencegahan agar tidak berakibat fatal, saya mengonsumsi obat pengencer darah, misalnya aspilet, aspirin, ticlid dan sejenisnya.

Sindroma ini membawa efek lain saat saya sudah menikah dimana sulit hamil dan saya pun sering keguguran, karena embrio kurang mendapat pasokan zat makanan dan oksigen. Namun, Tuhan sangat bermurah hati karena saya diberi kesempatan untuk hamil, melahirkan dan menimang tiga orang anak.

Sekitar dua bulan setelah melahirkan anak ketiga, tahun 2007 saya menderita mioma. Tekanan darah saya sampai 170/110. Saya pusing berat sampai pingsan. Menurut dokter, ini bagian dari gejala darah kental sehingga saya diingatkan untuk rutinb minum obat pengencer darah lagi.

Dua bulan kemudian pusing berganti dengan sakit perut di bawah pusar yang hebat. Selama tiga bulan saya keluar-masuk rumah sakit. Perut saya makin buncit, berat badan naik melesat hingga 68 kilo (biasanya 58 kilo). Barulah, dengan bantuan USG 4 dimensi terlihat tumor tumbuh di usus, liver, serta dalam rahim (mioma).

Dokter menyarankan operasi pengangkatan tumor tersebut. Saya sudah 7 kali menjalani operasi yaitu 2 kali operasi sinusi, 3 kali melahirkan, usus buntu sekali, infeksi usus sekali. Rasanya lelah.

Solidaritas yang diberikan oleh teman-teman sesama penggiat jejaring sosial menjadi pembangkit semangat bagi saya. Komunitas dari Yogja datang menjenguk saat saya terkapar di rumah sakit dengan membawa titipan teman-teman berupa origami berbentuk burung yang jumlahnya 1000 buah. Burung itu mewakili 1000 doa untuk kesembuhan saya. Sungguh sangat mengharukan.

Yang menjadi misteri bagi saya saat di rumah sakit, saya dikunjungi seorang ibu yang membawakan sebotol jus buah noni. Katanya, saya harus mencobanya, karena jus itu sudah banyak menyelamatkan kerabatnya.

Jus noni itu saya bawa pulang. Saya tidak mau berlama-lama di RS, saya tak mau dioperasi. Saya juga tidak mau minum obat apa pun. Yang pasti, saya mau merapatkan diri pada Tuhan, beristirahat di rumah dan berdekatan dengan anak-anak. Saya yakin, jika Tuhan berkenan, saya akan disembuhkan.

Sekitar seminggu di rumah, saya hanya mengobati diri dengan minum jus buah noni itu. Ternyata rasa sakit di bagian perut itu mulai mereda. 

Saat terkapar di tempat tidur, saya memutar koleksi CD serial Yoga for Healing. Ternyata isinya duduk bermeditasi dan mengatur pernapasan. Narasinya menenangkan saya “…relaks, lepaskan semua beban, lepaskan, Pusat alam semesta ada dalam diri Anda sendiri, mari kita masuk ke dalam diri sendiri…deep, deep inside”. Setiap malam saya rajin memutar CD ini dan sebisanya saya mengikuti instruksinya. Efeknya, saya makin tenang jiwa raga.

 

Saya merasa kondisi tubuh saya semakin membaik. Rasa sakit di perut mulai menghilang setelah sekitar 2 bulan setelah menghabiskan 4 botol jus noni.

Setiap pagi, saya berjalan dan berlari-lari kecil dengan membawa anjing piaraan kami. Pada bulan keempat saya merasa kesehatan saya telah pulih kembali dan saya bisa beraktivitas secara normal.

Bersamaan dengan kesembuhan ini, saya membuka Blood for Life, “ruang gawat darurat” di dunia maya untukmenjembatani mereka yang membutuhkan darah dan mereka yang sukarela mendonorkan darah. Saya sangat terkesima melihat respon orang-orang yang masih mau berbuat kebaikan dengan menolong sesama.

Sumber : majalah nirmala

 

 

Tags: , , , ,

Comments are closed.